Jumat, 27 November 2015

asal usul desa

ASAL USUL DESA MEKANDEREJO
Mekanderejo adalah salah satu nama desa di wilayah Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan Propinsi Jawa Timur, secara geografis Desa Mekanderejo terletak pada posisi 7°21'-7°31' Lintang selatan dan 110°'-111°40' bujur timur, Topografi ketinggian desa adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 0 s/d 23m diatas permukaan laut, dengan jumlah penduduknya 2.996 jiwa (2014), sebagian besar berprofesi sebagai petani. Secara administratif Desa Mekanderejo letaknya sangat strategis karena berdekatan dengan ibukota kecamatan kedungpane. Desa Mekanderejo terdiri dari 3 Dusun, yaitu Dusun Mekanderejo, Dusun Janggut dan Dusun Kalangan, yang dibatasi oleh wilayah desa tetangga, sebelah utara berbatasan dengan Desa Landak, sebelah timur berbatasan dengan Desa Majenang dan Desa Blawirejo, sebelah selatan berbatasandengan DesaKedungpring dan Desa Tengger, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Desa Gadingrejo dan Desa Kedungpring. Dalam bidang pemerintahan, Desa Mekanderejo mengalami beberapa pergantian pimpinan sebagai berikut: 1. Lurah KERTO (Alm), 2. Lurah SUJATMIKO (Alm), 3. Lurah WONGSODIKROMO (Alm), 4. Kepala Desa RADIN (Alm), 5. Kepala Desa SUHARDI (Alm), 6. Kepala Desa WINARNO dan yang ke 7 Kepala Desa FENDY KRISBYANTORO yang masih menjabat sampai sekarang.
Menurut cerita dari beberapa sesepuh yang dikuatkan dengan peninggalan-peninggalan serta dapat diterima oleh pemikiran yang sehat, maka terbukalah sejarah/ asal usul Desa Mekanderejo sebagai berikut:
Pada zaman Belanda, terdapat 3 Pengukuhan, yaitu Pedukuhan KANDE, JANGUR ( BABRIK ) dan Kalangan.
Berdasar cerita dari Bpk. NARTO Warga Dan. Mekanderejo RT 003 RW 005 bercerita, Pada masa itu Pedukuhan KANDE belum ada namanya, hanya berupa sebuah hutan lebat yang ditempati oleh sekumpulan orang yang dipimpin oleh Lurah KERTO, karena lebatnya hutan bangsa belanda tidak berani memasukinya, dari sekumpulan orang yang menghuni hutan tersebut ada beberapa orang yang mau berangkat haji, yang pertama ada 2 orang, tapi keberangkatannya selalu di tunda-tunda, selanjutnya tambah lagi 3 orang sehingga menjadi 5 orang, tapi tetap saja, keberangkatan mereka masih saja ditunda- tunda, atas kejadian tersebut akhirnya Lurah beserta sesepuh menamakan tempat itu dengan nama KANDE ( di ENDE-ENDE /dalam bahasa indonesia di tunda-tunda). Pada masa itu juga ada suatu kejadian penemuan mayat di utara Pedukuhan Kande yang  masih wilayah Pedukuhan Kande, karena warga Kande tidak ada yang mau menguburkan mayat tersebut, akhirnya mayat tersebut di kuburkan oleh warga Pedukuhan BABRIK, setelah kejadian itu tanah utamanya Pedukuhan Kande diberikan kepada warga Babrik untuk ditempati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar